Hi, teman-teman perlovers, kenalin nama aku
Elfahra Casanza, mahasiswa tahun ketiga di Fakultas Kedokteran Hewan
Universitas Brawijaya. Mungkin biar kita akrab satu sama lain, alangkah baiknya
aku punya panggilan kesayangan nih, namanya “Sobat Pet”, gimana bagus gak?
Sering gak sih Sobat Pet melihat hewan kesayangan kamu menggaruk-garuk
berlebihan? Patut diwaspadai terdapat infestasi kutu pada hewan kesayangan kamu.
Permasalahan kutu mungkin tampak terlihat biasa saja, namun akan sangat
mengganggu kenyamanan hewan kesayangan karena ada rasa gatal berlebihan yang
menyebabkan hewan sering menggaruk, jika dibiarkan lebih lama maka akan
menimbulkan alergi bahkan infeksi sekunder yang berujung pada alopecia (kebotakan). Infestasi kutu
berat dinamakan pediculosis. Sebenarnya,
infestasi kutu jarang terjadi pada hewan rumahan, namun sering terjadi pada
kucing dan anjing liar. Tapi tidak menutup kemungkinan hewan kesayangan kamu
akan terhindar dari infestasi kutu.
Gbr 1. Infestasi Kutu pada Anjing (Frederic et.al., 2008)
Kutu adalah ektoparasit kecil,
dorsoventral rata, memiliki 3 pasang kaki, sepasang antena dan tidak memiliki
sayap. Kutu menginfeksi hospes (inang) secara spesifik, artinya spesies
tertentu hanya akan menginfeksi hospes tertentu juga. Infestasi kutu pada
anjing umumnya disebabkan oleh spesies Trichodectes
canis (Famili Trichodectidae) (gambar 2a), sedangkan pada kucing umumnya
spesies Felicola subrostatus (Famili
Haematopinidae) (gambar 2b). Kutu
betina dewasa menempelkan telurnya pada hospes. Nimfa kemudian menetas dari
telur kira-kira 1 hingga 2 minggu lalu berkembang menjadi kutu dewasa pada
waktu 3 minggu. Kutu dewasa mempunyai cakar di setiap ujung tarsus (kaki),
sehingga memungkinkan mereka melekat pada rambut dan kebanyakan di sekitar
pangkal rambut. (Taylor et.al.,2016)
![]() |
| Gambar 2a. Trichodectes canis |
(Sumber: Frederic et.al.,2008)
Penularan kutu antar hewan
kesayangan juga dapat terjadi karena peralatan grooming (kegiatan merawat atau memandikan hewan kesayangan).
Biasanya grooming yang dilakukan pada Pet
Clinic atau Pet Care, menggunakan
peralatan berulang yang berpotensi sebagai transmisi penularan kutu. Anak
anjing dan kucing yang induknya terinfestasi kutu juga lebih beresiko terjadi
penularan. Prevalensi infestasi kutu lebih banyak pada hewan usia muda, tua,
dan kondisi lemah karena berkurangnya kemampuan self-grooming (perilaku alamiah menjilati rambut sendiri) yang
secara normal mampu menekan angka infestasi kutu.
Gejala klinis yang paling umum untuk
mengetahui hewan kesayangan kamu terinfeksi kutu adalah rambut berantakan,
kering, gelisah, ditemukan kerusakan pada coat.
Ketika rambut hewan anda dibelah, akan terlihat kehadiran kutu namun tergantung
dari warna rambutnya. Rambut hewan yang berwarna gelap akan lebih mudah untuk
melihat adanya kutu. Infestasi kutu berat dapat mengakibatkan alopecia (kebotakan), dermatitis, bahkan
anemia. Untuk dapat mendiagnosa kutu, sebenarnya dapat dilihat secara langsung
namun jika ingin mengetahui jenis/spesiesnya, harus dilakukan dengan mengidentifikasi
morfologinya dibawah mikroskop cahaya.
Menurut literatur yang sudah Elfahra
kumpulkan, ini ada beberapa tips untuk perawatan hewan kesayangan yang terkena
infestasi kutu:
1.
Konsultasikan ke Dokter Hewan karena mungkin obat dan perawatan yang diberikan
akan berbeda tergantung tingkat keparahan dan jenis infestasi kutu yang
diderita. Perawatan yang mungkin diberikan pada penderita adalah memutus siklus
hidup kutu dengan cara membunuh kutu dewasa maupun mencegah penetasan telur
kutu menjadi nimfa. Kutu dapat terbunuh oleh kebanyakan organofosfat seperti
Chlorpyrifos, Malathion atau Diazinon, Amitraz, Pyrethroids (permethrin) dan
Carbamates (carbaryl). Organofosfat dan Permethrin tidak boleh digunakan pada
kucing, sedangkan Amitraz hanya boleh digunakan dengan setengah dosis saja pada
anjing. Baru-baru ini juga muncul produk seperti Imidacloprid, Fipronil
dan Macrocyclic Lactone Selamectin
dengan tingkat keamanan yang lebih tinggi dan efektif. Perawatan berulang dalam
14 hari kemudian akan direkomendasikan untuk membunuh kutu yang baru menetas.
Lalu pada jarak 1 bulan, harus diperiksa kembali untuk mengevaluasi apakah
perlu dilakukan perawatan lanjutan atau tidak. (Frederic et.al., 2008)
2.
Jika Sobat Pet mempunyai kucing/anjing lebih dari 1, maka harus dipisahkan
antara hewan yang menderita infestasi kutu dengan yang tidak untuk menghindari
penularan kutu. Lingkungan sekitar tempat hewan kesayangan anda juga harus
dilakukan pembersihan, seperti area kandang, area litter box dan area bermain.
3.
Mandikan hewan kesayangan kamu dengan Shampoo khusus pembasmi kutu secara rutin
dan hindari penggunaan peralatan grooming
berulang.
4.
Berikan pakan dengan nutrisi yang sesuai juga disarankan untuk dapat
mengembalikan kondisi normal kulit serta menumbuhkan kembali rambut yang rusak
akibat infestasi kutu.
Nah,
itu dia Sobat Pet, sedikit pengetahuan tentang Infestasi Kutu pada hewan
kesayangan. Sebenarnya tidak bisa dianggap sepele, lho karena jika dibiarkan
pada kondisi lebih parah dapat mengakibatkan alopecia (kebotakan), dermatitis bahkan anemia. Jadi kita sebagai owner, harus lebih peka terhadap keadaan
hewan kesayangan jika dirasa terdapat hal yang tidak biasa. Jangan lupa juga
untuk rutin memeriksakan parasit lainnya, yang bisa jadi berupa pinjal, caplak,
cacing, dll. Sekian tulisan dari Elfahra, terima kasih sudah membawa Sobat Pet.
Semoga bermanfaat dan kita bisa bertemu di lain tulisan. Salam Pet Lovers!
Referensi:
Beugnet,
Frederic. Halos, Lenaig. Guillot, Jacques. 2018. Textbook of Clinical Parasitology in Dogs and Cats. Grupo Asis
Biomedia.
Taylor,
MA. Coop, RL. Wall, RL. 2016. Veterinary
Parasitology 4th Ed. John Wiley and Sons, Ltd, Chichester.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar