Rabu, 29 Mei 2019

MEWARISKAN CITA-CITA


Aku tidak tau bagaimana rasanya menjadi orang tua. Dengan sejuta kebahagiaannya melihat tumbuh kembang anaknya hingga menunggu kesuksesan anaknya. Yang kutau, bagaimana rasanya menjadi seorang anak yang sering kali aku berfikir, “apakah orang tua ku bahagia memiliki ku? Sudah sejauh apa aku berbakti? Apa saja yg sudah kuberikan kepada mereka?”

Orang tua ku bukan tipikal pendidik yang menargetkan aku harus ini dan harus itu. Sejak kecil, semua torehan prestasi, capaian, dll bukan atas dasar paksaan orang tua ku harus ikut kompetisi ini dan itu. Semua yang kulakukan memang atas dasar kesenangan dan minatku. Meskipun tiada paksaan, aku selalu didukung 100% dalam mengembangkan karirku. Bahkan memilih jurusan kuliah pun, aku tidak dipaksa untuk harus menjadi apa.

Ngerasa gak sih? Sebenernya orang tua kita menaruh cita-cita nya yang tidak sempat mereka wujudkan ketika mereka di usia kita. Makanya beberapa orang tua menuntut kita harus jadi ini dan itu. Mama ku bukan seorang lulusan S1, bahkan seterusnya. Karena pada masa itu, mama bukan dari keluarga yang mampu untuk berkuliah. Salah satu alasan aku sangat ingin menjadi seorang wanita berdaya & berpendidikan adalah mama. Mama gak mau anaknya bernasib sama seperti mama. Di sisi lain, papa juga cuma lulusan SMK. Tapi berkat kegigihan beliau, kami bisa tercukupi sekali kehidupannya bahkan untuk pendidikan, papa gak pernah sayang sayang ngeluarin biaya utk itu.

Aku tidak tau apakah pencapaian-pencapaian ku selama ini membuat orang tua ku bahagia memiliki ku atau tidak. Tapi ada hal lain yang membuatku semakin ingin membanggakan mereka. Papa selalu nge-post semua prestasi ku di facebook nya. Aku sering melihat komen-komen dari teman-teman papa. Melalui komentar itu, teman-teman papa mengatakan bahwa betapa beruntungnya papa mempunyai aku. Dari situ, aku semakin semangat untuk berprestasi, belajar dan berkarya.

Aku memang belum tau bagaimana rasanya menjadi orang tua, mempunyai anak, dll. aku hanya tau bagaimana rasanya menjadi anak yang dibesarkan oleh orang tua nya dengan penuh cinta dan perjuangan. Hal yang bisa aku lakukan saat ini adalah memaksimalkan peranku sebagai anak. Sebelum nantinya aku akan menjadi orang tua pula, aku ingin mewujudkan lebih banyak cita-cita orang tua ku dan cita-cita ku. Dan PR terbesar bagi kita ketika memutuskan untuk menikah adalah apakah sudah siap menjadi orang tua? Perlu direnungkan pula, ketika kamu menjadi anak, sudah maksimal kah kamu berperan untuk membahagiakan orang tua mu? Selagi muda, selagi mampu, selagi berdaya, mengapa menyia-nyiakan usia produktif ini?
__________________________
Elfahra Casanza Amalda
#BerkaryaMenginspirasi






Dreaming to Travel in Overseas

Hi, temen-temen. Elfahra mau sedikit berbagi cerita tentang gimana bisa travelling gratis! Mungkin bagi beberapa temen-temen yang orang tu...